“When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything. . . affects everything.” KARENA kita nggak tau apa yang sedang orang-orang lain hadapi, makanya hati-hati dengan setiap tindakan ataupun perkataan yang kita ucapkan.

Kesan inilah yang CUVIOUS dapatkan dari menonton 13 Reason Why. Serial ini berkisah tentang Hannah Baker (Katherine Langford) siswi SMA yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebelum meninggal Hannah meninggalkan pesan yang mengisyaratkan tragedi di balik kematiannya.

Kalo Hannah bikin 13 alasan kenapa dia memutuskan walk out dari dunia, CUVIOUS akan menguraikan 13 pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari serial ataupun cerita Hannah ini. Tarik nafas dalam-dalam, kalo tulisan ini ngena di hati kamu share ya….

“When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything. . . affects everything.”

1. Bullying itu Nyata!

Bukan cuma ada di tivi atau kita tonton di film. Bahkan serial ini sendiri berangkat dari kisah nyata sang penulis buku (yoi ini dari buku dengan judul sama, Babed!) yang dialami oleh orang yang dikenalnya. Jay Asher sang penulis buku cerita kalau banyak orangtua anak-anak remaja korban bunuh diri yang datang kepadanya dan berbagi pengalaman yang mereka alami.

2. Bercandalah yang Sehat

Bullying sedihnya sering diawali dengan bercanda, menjadikan seseorang atau sekelompok orang sebagai bahan lelucon. Bisa karena fisik, gaya busana atau apapun yang dianggap minus buat barisan mereka yang menganggap dirinya lebih “cool” di sekolah/lingkungan tertentu. Ingat Babes, bercanda yang sehat tidak akan menyakitkan orang lainnya. Kalau dia sudah merasa tersakiti dimana lagi letak humornya?

3. Bullying Tidak Harus Fisik

Kata-kata itu seperti pedang bermata dua. Jangan lupa, selain kekerasan fisik ada yang namanya kekerasan mental. Kondisi mental seseorang dijatuhkan dengan perkataan-perkataan pedas dengan tingkat level 10 lebih menyakitkan ketimbang satu pukulan telak!

4. Korban Bullying Tidak Harus Menunjukkan Muka Bermasalah

Karakteristik orang beda-beda, ada yang ekspresif, ada juga yang menyimpan semuanya di kedalaman hatinya. Jadi, siapa tahu orang yang baru kamu temui di jalan yang memandangmu dengan tersenyum menyimpan luka dalam?

5. Please…Jadilah Orang yang Lebih Peka

Setelah tahu kalau banyak duka dalam senyuman dan ada banyak senyum-senyum palsu, apakah kita masih menganggap persoalan bullying ini sederhana? Mulailah dengan orang-orang terdekat, bisa adik, kakak, abang, keponakan, saudara, jadilah orang yang peduli dimulai dari hal-hal sederhana seperti menanyakan bagaimana harinya, apa yang dia lalui hari ini, ada kejadian yang menyenangkan atau tidak. Itu sudah cukup membantu, lho….

6. Jangan Mengikuti Arus

Terutama para remaja, supaya diterima di kelompok tertentu segala cara dilakukan, termasuk mengkhianati dirinya sendiri. Mengkhianati diri sendiri dong namanya kalau membiarkan orang lain melukai perasaan dan harga diri. Tidak ada teman tidak akan “membunuhmu”, Babes, kelak teman yang tepat akan datang kalau kamu berani menunjukkan ke dunia siapa dirimu sebenarnya dengan menjadi diri sendiri.

7. Berani Berkata TIDAK

Kalau kamu sudah merasa tidak sanggup atau tidak mau melakukan sesuatu, jangan pernah segan mengatakannya dengan tegas, “Tidaaak! Ini nggak menunjukkan kalau kamu lemah kok. Malah menunjukkan kalau kamu manusia biasa yang juga punya batasan dan ini wajar.

8. Curhatlah…

Tidak semua masalah harus kamu pendam sendiri, simpan sampai membusuk. Kamu butuh seseorang untuk mengeluarkan unek-unek hati yang mendengarkan apa yang menjadi beban dalam hatimu. Kalau tidak ada teman yang tepat, bisa saudara, orangtua ataupun lembaga yang mengatasi problem remaja tentunya mau menampung semua “sampah” hati dan jiwamu.

9. Nggak Semua Juga Harus Dimasukkan ke Hati

CUVIOUS percaya, kalau semua hal, perkataan semua orang kita masukkan ke hati, bisa meledak beneran kepala. Santai aja! Atau…cobalah untuk santai, nggak menanggapi semua yang dibilang orang, anggap aja perkataaan-perkataan mereka seperti angin belakang yang dikeluarkan; baunya menusuk sebentar kemudian hilang!

10. Kalau Udah Nggak Tahan Lagi, “Tembak” Langsung Apa yang Mau Kamu Bilang

Sayangnya super hero itu tidak ada, Babes! Nggak bakal ada Spiderman yang menyelamatkan saat kamu di-bully yang kemudian voilaaa, sekejap kamu terselamatkan dan masalah usai! Hidup ini rimba hutan belantara, satu-satunya super hero yang ada setiap saat adalah dirimu sendiri. Paiiit memang, tapi hidup memang pahit, kalau manis namanya teh manis *eeeh*. Intinya kamu harus belajar membela dirimu sendiri.

11. Balas Dendam Bukan Penyelesaian

Ada tuh ‘kan di film-film, menyelesaikan masalah dengan balas dendam. Itu sama aja dengan melakukan kesalahan yang sama dan mengulangi “sejarah”. Kecuali kalau kamu membalaskannya dengan prestasi, itu baru jempolan!

12. Halo Para Millenials Jalan Hidupmu Masih Panjang!

Mereka yang biasanya menjadi korban ataupun pelaku bully kebanyakan dari kaum remaja ataupun millenials. Ini karena masa-masa remaja yang penuh dengan gejolak hormon, pencarian jati diri, cita-cita dan pengakuan lingkungan. Makanya nih…kalau kamu merasa hidupmu cuma di fase ini aja, apakah sekolah, lingkungan les, pertemanan kelompok, kamu salah besar! Jalan hidupmu masih panjang, kalau kamu memang butuh pengakuan lakukan dengan prestasi bukan sensasi.

13. Dan Tentu Saja Kematian Bukan Jawaban Segala-galanya

Masalah hidup memang berat, ada banyak orang-orang jahat dengan topeng kebaikan bersembunyi siap memangsa mereka yang lengah. Tapi bukan berarti menyerah dan menjemput kematian! Hidup memang keras maka gebuklah kata Prie GS. Atau mengutip salah satu buku favorit CUVIOUS yang masuk #BookReview kemarin, “Memburu keselaluan dalam ketidakpernahan…” Hidup memang singkat makanya lakukan yang bermanfaat. Cintai selagi masih ada waktu, raih yang kamu mimpikan dan buat dunia yang pendek ini lebih baik.

Cheers to good vibes!

Foto utama diambil fangirlish dari foto-foto lainnya dari wikia, mytrendingstories.com, pinterest, gmotors.co.uk.