Sebenarnya ini buku yang cukup jadul dari penulis besar Pear S. Buck yang pernah memenangkan Nobel Sastra di tahun 1938 dan Pulitzer di tahun 1932 untuk buku indahnya The Good Earth.

BUKU ini berkisah tentang petani ulet bernama Wang Lung yang sangat mencintai tanahnya. Setiap pagi dia bekerja keras mengolah tanahnya untuk menghasilkan beras, sayur-sayuran dan tanaman lain untuk menghidupi keluarganya. Dulu mimpinya hanya sederhana, tanah yang menghasilkan, seorang istri dengan banyak anak laki-laki.

Namun dunianya serentak berbalik ketika dia menginjakkan kaki di rumah keluarga Hwang, seorang tuan tanah kaya-raya. Saat itu keperluannya adalah mengambil O-lan, budak di keluarga Hwang untuk dijadikannya istri. Melihat rumah besar, pesona keangkuhan yang menunjukkan kekuasaan yang seketika membuat Wang Lung berhasrat memiliki kekuasaan yang sama.

photo source: freestock.org

 

Kesempatan datang saat bencana kelaparan terjadi dan keluarganya harus mengungsi di kota lain. Di sana mereka sempat beberapa waktu lamanya menjadi gembel dan kekacauan terjadi, orang-orang miskin mengamuk dan menjarah mereka yang kaya. O-lan sang istri mengambil segenggam besar permata. Kelak inilah yang menjadi salah satu modal Wang Lung untuk mengolah tanahnya dan menjadi tuan kaya-raya di kampung halamannya.

Sayang…seperti manusia pada umumnya saat harta di tangan keinginan untuk mencoba hal-hal lain datang. Mau makanan yang lebih enak, rumah lebih besar dan perempuan yang lebih cantik. Wang Lung memang berhasil memberikan hidup yang “lebih baik” dan kekayaan kepada anak-anaknya tapi dia gagal mentransfer keuletan dan ketangguhan hidup yang dimilikinya dulu saat menjadi petani.

Buku ini bagus banget dibaca, untuk kembali menyadarkan kita, apa sesungguhnya makna hidup sejati. Apakah hanya sekadar mengejar materi, kehormatan atau adakah sesuatu yang lebih penting dari keduanya ini?

 

 

Cheers to good vibes!

 

Foto utama diambil dari freestock.org.