Hidup ini seperti lebah-lebah jantan yang menjalankan tugasnya sebelum mati. INI salah satu ucapan dari Paloma Josse, gadis kecil berusia 12 tahun, salah satu penghuni apartemen mewah di Jalan Grenelle No 7 Paris.

Pernah tidak kamu mengalami fase dimana kamu seakan berada di dimensi yang salah. Kehidupan yang kamu jalani sudah tidak sesuai lagi denganmu. Dan…kamu sudah tidak tahan lagi dengan segala kemunafikan yang dijalani orang-orang di sekelilingmu.

Bercerita tentang kemanusiaan sambil minum high tea, mempelajari filsafat hanya sebagai kosmetik pergaulan. Jika menjadi orang pada umumnya, seharusnya Paloma menikmati kemewahan dan kelas sosial yang diperolehnya dari ayah seorang pejabat pemerintah, ibu seorang sosial “intelek” dan kakak perempuan seorang mahasiswi di universitas bergengsi. Belum lagi para tetangga yang tidak kalah bergengsi dengan pekerjaan dan status sosial yang dimiliki.

Tapi…Paloma bukan manusia pada umumnya. Dia memiliki kecerdasan di jauh di atas rata-rata, melahap semua buku sejarah, filsafat. Intinya Paloma adalah filsuf yang terperangkap di tubuh anak kecil dan bosan dengan dunia yang menurutnya hanya kesia-siaan karena pada akhirnya semua akan mati pada waktunya.

Yang terjadi adalah…Paloma memutuskan mati di usia 13 tahun dan berencana membakar apartemen mereka setelah menyelamatkan kucing-kucingnya terlebih dahulu. Hari-hari menjelang hari “H” dia rutin menuliskan catatan untuk ditinggalkannya kelak setelah mati.

Hidupnya penuh dengan kontemplasi sampai akhirnya dia bertemu dengan Renee, penjaga gedung apartemen yang hanya dianggap warga kelas tiga dalam kelas sosial di lingkungan mereka. Sebenarnya Paloma sejak lama sudah merasa kalau Renee bukan pengaja gedung biasa. Tidak ada penjaga gedung yang memberi nama kucingnya Leo dari “Leo Tolstoy”, membaca Marx, penikmat Mozart.

“Begitukah kehidupan berjalan? Kita memaksakan diri dengan gagah berani, hari demi hari, mempertahankan peran kita dalam komedi horor ini.”

Yang diherankan Paloma adalah Renee lebih senang menyembunyikan pengetahuannya dan menganggapnya sebagai hobi yang tidak patut diperdengarkan ke orang-orang banyak. Pertemuan keduanya membuat Paloma sadar kalau kehidupan tidak semengecewakan seperti yang dipikirkannya. Ya…hidup memang kesia-siaan, namun selalu ada keindahan dalam setiap ketimpangan ataupun tragedi yang terjadi.

Novel ini sangat indah, Babes! Bacaan yang akan mencuri perhatianmu dari kalimat pertama, halaman pertama. Bacaan dengan karakter yang unik. Karakter yang tergila-gila dengan tanda baca, terobsesi dengan kematian dan dia yang mampu menangkap kecantikan jiwa tanpa perlu melihat topeng -topeng fisik.

Kalau kamu penikmat Paulo Coelho kemudian berganti haluan ke Jostein Gaarder dan sama-sama menemukan titik jenuh, Muriel Barbery akan menyegarkan gairah membacamu lagi, Babes!

Cheers to good vibes

Foto diambil dari gramedia, pinterest, hipparis dan berbagai sumber.