Kemewahan dari membaca adalah kita bisa membangun “teater” sendiri dan menemukan detail-detail yang terlewatkan di film. Kalau kamu termasuk yang kurang puas dengan ending di film The Girl with The Dragon Tattoo baik versi original maupun remake-nya, membaca bukunya The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked The Hornets’s Nest akan memuaskan dahagamu akan “kegantungan” cerita dan detail yang hilang dalam film.

LISBETH Salander adalah perempuan serba bisa, menguasai teknologi semudah membalikkan telapak tangannya. Pada buku kedua dan ketiga kita akan menemukan kepingan rahasia darimana kemampuan Lisbeth berasal.

Dan ternyata “kegilaannya” bisa dibilang diturunkan secara genetis dari ayahnya Zalachenko; pembelot Rusia yang juga punya kemampuan di atas rata-rata manusia normal tapi sayang dalam hal ini Zalachenko sudah terlampau gila sehingga kegilaannya bisa merusak orang-orang di sekelilingnya.

Sedangkan pada kasus Lisbeth sendiri, dia hanyalah perempuan antisosial yang sering disalah-artikan lingkungan sosialnya sebagai orang aneh. Buat mereka yang oportunis keji, menjadikan “keanehan” Lisbeth sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat kelamnya. Lisbeth pernah menjadi korban pelecehan di kereta api, ada therapist yang mau membuat dia semakin gila, wali yang alih-alih melindungi malah memerkosanya, ayah yang mau menghabisi nyawanya dan pemerintah yang ingin menjadikan Lisbeth tumbal dengan mengatasnamakan kepentingan negara.

Membaca dua buku lanjutan The Girl with The Dragon Tattoo tidak semata menemukan aksi spionase yang seru, konspirasi pemerintah dan hal-hal lain yang biasa menjadi “teman” dalam buku-buku crime fiction thriller.  Tapi…lebih dari itu, buku karangan Stieg Larsson ini akan membuka mata kita, bahwa ada banyak “keganjilan” di dunia ini yang kita tolak untuk pahami. Padahal sebagian “kegilaan” punya penjelasannya sendiri.

 

Cheers to good vibes!

 

 

Foto-foto diambil dari berbagai sumber dan wiki info.